PSS Sleman dan Melesatnya Sayap Elang Jawa

Share:
PSS Sleman

PSS Sleman datang ke kasta tertinggi dengan sejuta harapan. Berasal dari Yogyakarta yang penuh dengan sejarah sepak bola, PSS menanggung beban yang teramat berat: mengangkat nama Yogyakarta di kancah sepak bola Indonesia.

Terlebih lagi, Super Elang Jawa datang ke Liga 1 2019 dengan status sebagai tim juara Liga 2 2018. Titel tersebut semakin membuat langkah PSS semakin berat dengan beban yang berada di pundak.

Pergerakan mereka di bursa transfer tak secepat klub promosi lain. Sebut saja Kalteng Putra yang memboyong pemain lokal kelas atas seperti Patrich Wanggai, Feri Pahabol, dan O.K John. PSS Sleman justru mendatangkan para pemain lokal yang berjaya di Liga 2, macam Kushedya Hari Yudo, Ricky Kambuaya, dan Haris Tuharea.

Dilansir dari https://www.bolanusantara.com/, pemain senior yang mereka datangkan hanyalah Purwaka Yudhi, Rudi Widodo, dan Jajang Sukmara. Tak hanya itu, para pemain asing yang mereka boyong pun belum pernah bermain di Indonesia. Artinya, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia yang jauh lebih baik dibandingkan di Eropa.

Namun, segala keraguan itu ternyata tak terbukti. PSS Sleman terbang tinggi bak Elang Jawa.

Brian Penting, tapi...

Sadar bahwa komposisi skuat tak mentereng, Pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiyantoro memberikan sentuhan yang berbeda. Mereka mengandalkan kolektivitas tim, dibandingkan memilih bermain mengandalkan kemampuan individual para pemain.

Memainkan pola 4-3-3, di lini belakang, Seto masih mengandalkan Ega Rizky yang telah lama membela PSS Sleman. Ega dikawal oleh empat bek yang dikomando oleh Bagus Nirwanto. Meskipun termasuk pemain senior, Purwaka Yudhi tak luput dari evaluasi. Posisi bek tengah kerap digantikan oleh pemain lain. Aura kompetisi terlihat jelas di lini belakang.

Dilansir dari bolanusantara.com, pos bek kiri awalnya menjadi milik Jajang Sukmara, eks Persib Bandung. Namun, perlahan Derry Rahman menjadi pilihan di pos bek kiri. Sekali lagi, Seto tak memberikan garansi kepada seluruh pemain.

Di posisi tiga gelandang, awalnya Wahyu Sukarta yang dipasang sebagai holding midfielder. Kembalinya Batata membuat posisi ini hampir pasti diisi oleh pemain asing PSS Sleman tersebut. Dua gelandang lain, hampir pasti diisi oleh Brian Ferreira dan Dave Mustaine. Khusus untuk Brian, ia menjadi salah satu pemain asing baru yang paling mengilap di Liga 1 2019.

Di lini depan, keberadaan Yevhen Bokhasvilli amat penting. Ia tak pernah sekalipun ditepikan oleh Coach Seto. Sementara dua pemain yang mengisi pos sayap kanan-kiri, kerap diisi oleh banyak pemain. Haris Tuharea, Irkham Zahrul Milla, Rangga Muslim, Kushedya Yudo, dan Arsyad Yusgiantoro bergantian mengisi pos ini. Penentuan dua pemain yang akan “menyuplai” Yevhen ditentukan pada menit-menit akhir, karena permainan PSS Sleman, selain berasal dari Brian, juga ditentukan oleh dua pemain sayap ini.

Dua pemain di pos sayap kanan dan kiri kerap menyisir sisi samping. Mereka memaksa para bek lawan mengikuti mereka dan membuat ada lubang di lini tengah. Lubang ini dimanfaatkan oleh Brian yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kelebihan permainan PSS Sleman lain adalah cepatnya mereka saat transisi. Ketika bertahan, selalu ada dua pemain cepat PSS yang bertahan hingga setengah lapangan. Keberadaan dua pemain cepat ini membantu PSS Sleman saat transisi dari bertahan ke menyerang.

Kondisi ini menjadi masuk akal ketika Seto menyiapkan lima pemain sayap untuk mengarungi Liga 1 2019. Posisi ini adalah kunci bagi lini serang PSS Sleman. Jadi, sejauh mana sayap Super Elang Jawa bisa terbang jauh?

No comments